Jelajah Tiga Pulau Dengan Nol Rupiah

Jelajah Tiga Pulau Dengan Nol Rupiah

Banyak orang yang bermimpi untuk bisa traveling keluar kota ataupun keluar negeri. Selain untuk menghilangkan kepenatan dari aktifitas sehari-hari, juga membuka cara berpikir seseorang setelah melihat keberagaman bahasa, budaya, kearifan lokal dan adat istiadat setempat. Tapi untuk merealisasikan keinginan tersebut bukan perkara mudah karena ada dua hal yang selalu mengganjal keinginan tersebut. Yang pertama adalah punya uang tapi tidak punya waktu banyak dan yang kedua adalah punya waktu banyak tapi tidak punya uang.

Saya adalah termasuk bagian yang nomor dua, punya waktu banyak tapi tidak punya uang. Keinginan untuk keluar dari zona nyaman demi melihat sesuatu yang baru dan unik selalu datang menggebu-gebu di dalam benak, lantas saya mencari cara bagaimana caranya untuk bisa menggapai keinginan tersebut.

Tidak ada kata ‘Tidak Mungkin’ karena saya bukan penganut paham pesimis. Semuanya pasti ada cara dan jalannya yang harus di mulai dengan kata ‘Lakukan’ dan puncaknya adalah pada bulan Januari 2014. Saat itu, saya berkenalan dengan Wieger dan Anna di Jakarta, dua orang asal Belanda yang keliling berbagai negara dengan menggunakan sepeda dan dibutuhkan waktu 1.5 tahun untuk bisa sampai di Indonesia.

Mereka bercerita kepada saya, di dalam setiap negara yang mereka singgahi, mereka tinggal selama 2 atau 3 bulan di rumah penduduk lokal ataupun kemping, lalu bekerja sebagai tukang cuci piring, tukang cat rumah dan lain-lain. Mereka menyingkirkan jauh-jauh sebuah kata ‘Gengsi’ demi mencapai sebuah keinginan yang telah mereka rancang 2 tahun sebelumnya. Dan dari cerita keseruan mereka seakan memberi dorongan kepada saya dan mem-#BukaInspirasi untuk segera melakukan yang menurut orang banyak adalah sesuatu hal yang sangat mustahil.

Dari kiri ke kanan: Wieger, Saya, Cepot.

Wieger dan Anna tinggal di Jakarta selama 2 minggu di Basecamp Taring Babi, sebuah komunitas punk yang dibentuk oleh Marjinal. Setelah itu, mereka berkeliling ke Bandung, Bali dan Flores. Selama perjalanannya di berbagai kota Indonesia, mereka bertemu dengan penduduk lokal yang menyambutnya dengan baik dan ramah.

Pada Maret 2014, mereka kembali lagi ke Jakarta dan bertemu dengan saya, banyak cerita baru yang mereka ungkapkan selama perjalanan di beberapa kota Indonesia. Mereka bertemu dengan Evi di Larantuka, Flores Timur, yang menampung mereka di rumahnya. Pada saat itu, Evi yang bekerja sebagai manajer kantor tur dan travel di Larantuka memiliki keluhan dengan website kantornya yang tidak bisa di akses oleh orang-orang yang tinggal di luar negeri. Lantas Wieger dan Anna merekomendasikan saya untuk merevisi website kantornya.

Saat mendengar cerita mereka seolah ada sebuah pintu untuk memulai sebuah perjalanan yang telah saya impikan sejak lama. Dan beberapa hari kemudian, Evi menghubungi saya lalu berbicara panjang lebar mengenai kendala yang dia hadapi. Kemudian saya memberikan dua pilihan kepadanya, jika mengerjakannya di Jakarta tarifnya Rp.5.000.000 dan jika mengerjakan di Larantuka tarifnya Rp.3.000.000 serta tiket pulang-pergi. Lantas Evi memilih pilihan yang kedua. Seperti mendapatkan durian runtuh, saya benar-benar senang saat mendengar hal itu.

10 April 2014, setelah mendapatkan tiket Jakarta-Maumere yang dikirimkan melalui email beberapa hari sebelumnya, saya berangkat pada dini hari dari rumah karena mendapat jadwal penerbangan yang pertama. Pesawat yang saya naiki mendarat di Bali untuk transit lalu pindah pesawat menuju Maumere, saya memberi kabar kepada Evi jika saya sudah tiba di Bali dan sebentar lagi akan menuju Maumere.

Setelah pindah pesawat, perjalanan pun dilanjutkan dengan melewati dan transit sebentar di Waingapu. Apesnya adalah sama sekali tidak ada sinyal, saya sempat kebingungan untuk memberi kabar lagi, kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Maumere. Setelah mendarat, dalam keadaan bingung, tercetus di benak saya untuk pergi ke bagian informasi atau ke kantor polisi, meminta bantuan untuk menghubungi atau memanggil nama seseorang yang akan menjemput saya.

Beristirahat sejenak di Taman Wisata Laut Gugus, Maumere.

Rumah Evi dan Kornel tempat saya tinggal di Larantuka.

Saya terus berjalan keluar dari bandara, banyak calo-calo yang berdiri berbaris di pintu keluar sambil menawarkan jasanya, saya menolak tawaran-tawaran tersebut yang datang silih berganti. Tetapi ada salah satunya yang memaksa dan terus mengikuti dari belakang, saya terus berjalan menuju bagian informasi dan di saat itulah ada seseorang yang memanggil-manggil nama saya, dia adalah Kornel, suami Evi, orang yang akan menjemput saya. Lalu orang yang mengikuti tadi pergi berlalu.

Di bawah sengatan terik matahari yang mengiris setiap inci kulit, Kornel langsung mengajak saya untuk segera ke Larantuk dengan menggunakan sepeda motornya. Dan perjalanan harus di tempuh selama 4 jam. Cukup melelahkan tapi rasa lelah itu tergantikan dengan suguhan-suguhan keindahan panorama alam yang membius mata.

Sesampainya di rumah Kornel dan Evi, gelap malam sudah mengikis terang. Tidak ada satupun lampu yang menerangi jalan, yang ada hanya pendar-pendar cahaya pada setiap rumah. Saya tinggal di rumah mereka selama 1 minggu untuk mengerjakan revisi website yang di kerjakan di kantornya yang berjarak 6 kilometer dari rumah mereka.

Kota Larantuka sangatlah kecil, dan saat saya di sana kebetulan sedang ada upacara seremonial Semana Santa, sebuah upacara sakral bagi umat Katolik yang hanya bisa ditemukan di dua negara, salah satunya di Larantuka, Flores Timur, Indonesia. Upacara ini dilakukan seminggu sebelum paskah, banyak umat Katolik dari berbagai kota di Flores bahkan mancanegara yang datang untuk mengikuti seremonial ini selama 4 hari dan puncaknya adalah pada hari ketiga terdapat arak-arakan di laut dan darat.

Perahu tradisional Pledang saat mengikuti Semana Santa.

Prosesi arak-arakan di laut saat Semana Santa.

Usai merevisi website, saya meminta tiket pesawat pulang dari Bali, Evi sempat terkejut dengan keinginan yang saya mau tapi ia tetap memberikan tiket pesawat. Setelah mendapatkan tiket pulang dan uang pembayaran lantas saya bersiap-siap untuk memulai berpetualang di tiga pulau (Flores, Lombok dan Bali).

Keesokan harinya, pada dini hari yang gelap, Kornel mengantarkan saya menuju Kota Ende dengan menggunakan sepeda motornya dan jarak yang di tempuh selama 7 jam. Sempat mengalami berbagai kendala, mulai dari mur kabel depan terlepas, ban depan dan belakang bocor dan beberapa kali hampir menabrak hewan-hewan yang melintasi jalan raya yang lengang.

Selama perjalanan, saya harus menopang ransel yang beratnya mencapai 7 kilogram pada kedua paha yang beberapa kali terserang rasa keram. Di beberapa titik berhenti selama 15 menit untuk istirahat lalu melanjutkan perjalanan kembali hingga akhirnya sampai di Danau Kelimutu pada siang hari yang berada di Desa Moni, sebuah desa yang berbatasan dengan Kota Ende dan Kota Maumere.

Danau Kelimutu memiliki tiga warna air yang berbeda-beda dan perubahan warnanya tidak bisa di prediksi. Selain itu, penduduk setempat mempercayai tiap danaunya di huni oleh arwah-arwah keluarga mereka yang telah tiada. Dan pada setiap satu tahun sekali penduduk setempat melakukan uapacara ritual di Danau Kelimutu.

Mur kabel rem depan yang terlepas dan harus di ikat dengan tali.

Tidak ada kendaraan yang melintas ataupun bengkel.

1 jam berlalu, Kornel mengajak saya untuk melanjutkan perjalanan lagi ke Kota Ende yang harus di tempuh selama 2.5 jam perjalanan. Di Kota Ende, saya tinggal selama 3 hari di rumah Pak Kumis yang merupakan pamannya Evi, saya memanggilnya Bapak Otu. Pada keesokan harinya, Kornel harus kembali lagi ke Larantuka dan saya tinggal sendiri yang ditemani oleh Jerry, keponakan Bapak Otu.

Dia membawa saya keliling Ende, mulai rumah pengasingan Bung Karno masa kolonial yang saat ini menjadi museum, Pantai Mbu’u dengan latar perbukitan, alun-alun Kota Ende, sebuah tempat Bung Karno merenung di bawah pohon sukun dan Pantai Blue Coral, sebuah pantai yang dipenuhi batu-batu koral yang berwarna biru.

Pada hari ketiga, di pagi hari Bapak Otu mengantarkan saya ke terminal untuk menaiki bus menuju Bajawa. Di Flores angkutan bus hanya tersedia bus pagi, siang dan sore. Saya memilih naik bus pagi agar tiba di kota tujuan pada siang hari karena jarak tempuh tiap kota sangat berjauhan dan itu sangat terasa jauh karena tidak ada macet.

Panorama keindahan Danau Kelimutu dari atas puncaknya.

Tetap senyum meskipun menghadapi kendala berkali-kali.

Dibutuhkan waktu 3 jam perjalanan menuju Kota Bajawa. Sesampai di terminal Kota Bajawa, berbekal alamat rumah yang diberikan Ewal sebelum saya memulai berpetualang, dari terminal Bajawa saya langsung menuju ke rumah orang tua Ewal yang terletak di Waturutu dengan menggunakan ojek. Ewal tidak bisa menjemput karena dia sedang mengajar di SMP yang terletak di Desa Soa, dia tinggal di desa itu bersama tantenya.

Setelah sampai di depan rumahnya, saya di sambut baik oleh Kristin dan Dion, adik Ewal. Saya dipersilahkan masuk dan duduk menunggu di ruang tamu. sekitar jam 1 siang, Mama Vina, ibunya Ewal, pulang sehabis bekerja di rumah sakit. Saya banyak berbicara dengan Dion dan Mama Vina. Dan sekitar jam 3 sore, Ewal datang dan berbicara sebentar lalu mengajak saya ke Kampung Tradisional Bena yang harus di tempuh selama 1 jam.

Kampung Bena merupakan kampung tertua di Bajawa berlatar belakang Gunung Inerie dengan iklim udara yang sejuk. Usai itu, dia mengajak saya untuk bermalam di rumah tantenya di Desa Soa. Dan keesokan harinya, selesai mengajar Ewal mengajak saya ke pemandian air panas Mengeruda. Sebuah pemandian yang di aliri dua mata air yang berbeda, dingin dan panas.

Menjelang sore hari, Ewal mengantarkan saya ke rumah orang tuanya di Waturutu untuk bermalam. Saat itu, suhu udara Kota Bajawa sangat dingin hingga menusuk tulang. Dan pada pagi hari berikutnya, saya melanjutkan perjalanan lagi dengan menaiki bus menuju Labuan bajo dengan jarak tempuh selama 7 jam perjalanan.

Bersama Ewal di Kampung Tradisional Bena.

Pemandian air panas Mengeruda.

Di dalam bus, saya bertemu dengan seorang ibu yang mau ke Bali menggunakan kapal ferry. Dan saat itu kondisi tubuh saya mulai menurun, gejala demam perlahan-lahan menjalar di seluruh tubuh, lantas ibu tersebut menemani saya hingga mencarikan penginapan di dekat pelabuhan Labuan Bajo yang hanya tersekat triplek.

Pada pagi hari berikutnya, ibu tersebut sudah melanjutkan perjalanannya ke Bali, lantas saya berjalan-jalan ke pasar Labuan Bajo untuk mencari makan lalu bertemu dengan Pak Imran, seorang nelayan yang lagi bersandar. Saya dan dia mengobrol panjang lebar, seketika dia mengajak saya untuk mengunjungi rumahnya di Kampung Komodo di wilayah Pulau Komodo, tapi saya menolaknya karena sudah terlanjur janji dengan Hendro yang tinggal di Mataram.

Berhubung waktu sudah jam 8 pagi, saya langsung bergegas kembali ke penginapan untuk mengambil ransel lalu berjalan ke pelabuhan untuk membeli tiket kapal ferry dan duduk menunggu selama 30 menit. Setelah itu, saya menaiki kapal ferry menuju Pelabuhan Sape dengan jarak tempuh 7 jam perjalanan mengarungi lautan lepas.

Di dalam kapal ferry, saya bertemu dengan Ferdy yang baru saja pulang dari Kalimantan dan mau pulang ke Bima. Saya mengobrol banyak dengannya dan ia juga mengajak saya untuk bermalam di rumahnya, tapi berhubung saya sudah berjanji dengan Hendro di Lombok, saya menolak tawarannya.

Sesampai di Pelabuhan Sape, Ferdy mengantarkan saya menaiki minibus menuju terminal Bima yang harus di tempuh selama 2.5 jam, lalu dilanjutkan dengan menaiki bus antar kota Bima - Mataram yang berangkat pada jam 7 malam dengan jarak tempuh 12 jam. Bus berhenti sekali di Sumbawa untuk makan lalu melanjutkan perjalanan lagi dan menyeberangi lautan dengan kapal ferry selama 2 jam.

Di atas kapal ferry menuju Pelabuhan Sape.

Suasana Pelabuhan Sape setelah bersandar.

Pada pagi hari, kapal ferry bersandar dan bus yang saya naiki melanjutkan perjalanan lagi menuju Kota Mataram. Setibanya di sana, saya langsung menghubungi Hendro, karena saat di Lombok, ponsel yang saya gunakan baru mendapat sinyal. Lalu seseorang yang bernama Fendy menjemput saya dengan sepeda motor dan diantarkan ke distro Lombok Hardcore, tempat Hendro bekerja.

Selama 5 hari di Lombok, saya tinggal di rumah Hendro dan untuk keliling saya ditemani Fendy ke air terjun Benang Stokel dan Benang kelambu. Pada hari berikutnya ditemani Manda ke Pantai Senggigi dan sekitarnya. Saat mendekati hari terakhir di Lombok, Hendro, Manda dan Sugi mengajak saya ke Gili Trawangan dengan menaiki speedboat. Di pulau itu, seakan saya berada di negeri orang lain karena banyak turis-turis yang berlalu-lalang dan saya bermalam di bungalow Panca, temannya Hendro.

Pada hari berikutnya, saya dan mereka harus kembali lagi ke Mataram dengan menggunakan speedboat, lalu Manda mengantarkan saya ke terminal Mataram. Setelah itu, saya menaiki bus menuju Bali dengan jarak tempuh selama 7 jam lewat darat dan laut. Dan pada jam 7 malam, saya tiba di terminal Ubung.

Kesegaran alami di Benang Stokel.

Di Gili Trawangan sebelum kembali ke Mataram.

Bombom menjemput saya dengan vespa-nya lalu mengantarkan saya ke basecamp Walhi di wilayah Denpasar dan bermalam di sana selama 4 malam. Untuk keliling beberapa tempat di Bali, Didit menemani saya dengan menggunakan sepeda motornya ke Goa Gajah, museum, lalu menonton acara punk dan lain-lain. Dan hari terakhir di Bali, saya bermalam di sekitar Popies Lane karena untuk menghemat waktu untuk ke bandara.

Selama 40 hari, saya berpetualang di 3 pulau dengan budget Rp.3.000.000 hasil dari pembayaran revisi website (bukan dari uang pribadi) menghasilkan sejuta cerita dan pengalaman. Dengan memiliki cerita yang menarik, lantas saya memulai menulis tentang perjalanan tersebut meskipun saya tidak ada bakat menulis tapi dengan belajar dan banyak membaca buku-buku dalam waktu 6 bulan untuk merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat akhirnya selesai juga. Setelah itu, tulisan tersebut saya kirimkan ke berbagai publisher.

Tolakan demi tolakan pun datang, tapi saya tidak menyerah begitu saja hingga pada akhirnya ada salah satu publisher, Diva Press, yang tertarik untuk mencetaknya ke dalam bentuk buku yang berjudul ‘Backpacker - Indahnya Negeriku’. Pada bulan November 2015, buku tersebut telah beredar di seluruh toko buku seperti Gramedia, Gunung Agung. TM Bookstore dan lainnya. Dan sejak itu, saya percaya kalimat peribahasa ‘Banyak Jalan Menuju ke Roma’.

Nah bagi anda yang mau membeli buku tentang catatan perjalanan saya tersebut, di Bukalapak mungkin ada yang menjualnya, anda bisa mencarinya di sini.

Di depan Goa Gajah.

Bersama teman-teman Bali pada malam terakhir di Popies Lane.

Buku saya yang terpampang di toko buku.

Berpose di Kampung Tradisional Waerebo.




+ komentar + 1 komentar

23 September 2018 16.01

Good story.. And next episode

Posting Komentar

 
Support : Backpankers
Copyright © 2014. Backpankers - All Rights Reserved
Template Created by Backpankers Published by Backpankers