Latest Post

Basah-Basahan Seharian Di Curug Sedong Jonggol

Written By Backpankers on Minggu, 01 April 2018 | 19.09





Jangan meremehkan Jonggol, meskipun hanya bagian dari Kabupaten Bogor yang letaknya cukup jauh dari pusat kota. Namun di tempat ini banyak menyimpan potensi wisata yang sangat luar biasa. Baik itu keindahan panorama alamnya yang dikelilingi bukit-bukit hingga banyaknya curug-curug yang masih tersembunyi. Bukan hanya Curug Cipamingkis, Curug Country atau Curug Ciherang yang ada di Jonggol tapi masih banyak curug-curug lainnya yang belum terjamah.

Adalah Curug Sedong, salah satu destinasi terbaru yang belum terjamah oleh orang banyak karena letaknya yang sangat tersembunyi di dalam hutan belantara yang bersolek dengan rimbunnya pepohonan dan bukit-bukit yang mengelilinginya, di tambah lagi belum begitu banyak informasi mengenai keberadaannya.

Pada hari minggu (18/03/2018), berbekal sedikit informasi yang saya dapatkan saat browsing kemudian tertarik untuk mengunjunginya. Saya pun mengajak Mey dan Rico untuk menjejakkan kaki di Curug Sedong yang terletak di Desa Cibodas, Jonggol dan tidak begitu jauh dari Jonggol Garden dan Goa Ciwadon.

Sekitar pukul 09.00 WIB, saya janjian dengan Mey dan Rico di Alfamart Jalan Mayor Oking Cibinong. Setelah bertemu, kami mencocokkan GPS sebagai penunjuk jalan lalu berangkat dengan menggunakan sepeda motor. Ada tiga rute yang tertera di GPS namun kami memilih rute yang tercepat. Kami melewati wilayah Citeurep bersanding dengan hiruk pikuknya kendaraan yang melintas. Kelokan demi kelokan kami lalui dengan mengikuti jalur yang tertera di GPS.





Kemudian memasuki wilayah Leuwi Karet, sebuah jalan sempit yang menurun hanya bisa dilalui sepeda motor lalu melewati jembatan besi dan rumah-rumah penduduk hingga memasuki perkebunan yang sangat hening yang menjadi titik akhir medan jalan yang terbeton. Kemudian memasuki medan jalan yang berbatu, kami tidak menaruh curiga, kami terus melanjutkan perjalanan.

Tapi di lokasi inilah yang menjadi malapetaka buat kami karena di sepanjang jalur ini medan jalan rusak parah penuh bebatuan, tanah lembab bahkan lumpur yang terkadang landai, menanjak dan menurun. Tidak ada satupun rumah penduduk, kami terus melewati hutan belantara yang dipenuhi rimbunnya pepohonan.

Rasa lelah terus menghardik kami, bahkan beberapa kali Mey harus turun dari sepeda motor dan berjalan kaki saat Rico mencoba berjalan menanjak di medan jalan yang penuh bebatuan bercampur tanah lembab yang licin. Kami terus berjalan mengikuti jalur tersebut. Hingga pada akhirnya, kami berhenti di salah satu rumah penduduk dan bertanya kepadanya mengenai Curug Sedong.

Orang tersebut pun memberitahu jika keberadaannya masih jauh. Kami melanjutkan perjalanan kembali hingga di pertigaan Cioray yang dipenuhi rumah-rumah penduduk dan terlihat beberapa orang rombongan sepeda. Sejenak kami beristirahat sambil bertanya kepada salah satu penduduk yang sedang duduk di depan teras rumahnya dan orang tersebut pun mengarahkan kami untuk berjalan lurus.


Kemudian kami melanjutkan perjalanan kembali, hingga pada di satu titik dengan medan jalan yang penuh bebatuan bercampur tanah lembab dan sangat menanjak, masing-masing sepeda motor kami tidak sanggup untuk jalan menanjak. Rasa lelah meliputi tubuh kami dibawah hujaman teriknya matahari yang menyengat.

Saya dan Rico beristirahat sejenak karena kelelahan, sementara Mey menunggu diatas. Di tengah-tengah kepelikan yang menyelimuti, Rico mendorong sepeda motor saya, namun belum sampai atas, saya merasakan kelelahan yang teramat sangat dan beristirahat kembali dengan nafas yang tersengal-sengal.

Beberapa menit kemudian, saya membantu Rico mendorong sepeda motornya namun tidak sanggup karena sudah kehabisan tenaga. Saya meminta Rico untuk beristirahat sejenak. Dan sejurus kemudian datang sebuah mobil jeep yang ingin melewati jalur tersebut. Sontak saya yang sedang duduk beristirahat pun langsung berdiri dan kembali mendorong sepeda motor Rico hingga ke atas dan di taruh di salah satu rumah penduduk.

Setelah itu, Rico mendorong sepeda motor saya namun mesin motor sempat mati, beberapa kali di starter tidak mau menyala. Rico pun mengambil alih dengan memegang stang motor dan saya mendorongnya dari belakang sekuat tenaga. Seketika, mesin motor menyala, saya dan Rico terus mendorongnya hingga mencapai di salah satu rumah penduduk.




Kemudian kami menumpang beristirahat sejenak di rumah tersebut dengan sekujur tubuh yang benar-benar sudah tidak bertenaga. Bahkan pandangan saya pun sedikit kunang-kunang. Dan beberapa saat kemudian, rombongan orang-orang yang ada di dalam jeep itu pun berjalan menghampiri kami dan beristirahat di rumah tersebut. Jeep tersebut tidak bisa naik ke atas karena radiatornya panas.

30 menit kemudian, kami melanjutkan perjalanan di medan jalan yang benar-benar rusak parah. Hingga akhirnya memasuki Desa Cibodas dan berhenti di salah satu rumah penduduk yang di depannya adalah Goa Ciwadon. Kurang lebih 3 jam kami melalui medan jalan yang parah tersebut dan tiba pada pukul 13.00 WIB.

Setelah beristirahat, kami memulai trekking menuju Curug Sedong dan dibutuhkan waktu 1 jam untuk trekking melewati perkebunan yang gersang dengan panorama bukit-bukit sekitar, hamparan sawah dan menyeberangi aliran sungai hingga empat kali. Tidak ada petunjuk apapun di lokasi tersebut dan beberapa kali kami bertanya kepada beberapa petani yang sedang berladang atau melintas.

Mereka dengan senang hati menunjukkan jalan ke Curug Sedong. Dan benar saja, curug tersebut berada di balik rimbunnya pepohonan. Debit air yang turun yang sangat deras, ketinggian curug kurang lebih sekitar 3 meter dengan kolam alami yang menampung air yang mengalir dengan kedalaman sekitar 1.5 meter.

Sesaat kemudian, datang rombongan anak-anak kecil penduduk setempat, mereka melompat dari atas curug ke kolam alami dengan riangnya. Cukup menghibur kami di tengah-tengah rasa lelah yang menghardik. Sementara itu, diatas curugnya terdapat kolam dan curug mini lagi, Kedalaman kolamnya kurang lebih sekitar 2 meter. Warna airnya kehijau-hijauan. Cukup lama kami berada di tempat tersebut hingga pada pukul 16.00 WIB, kami harus kembali ke tempat parkiran. Curug Sedong belum di kelolah dan tidak ada tiket masuk.




How To Get There ??.

Jika anda dari Jakarta, arahkan kendaraan anda ke Cibinong. Jika lewat tol (untuk mobil) keluar tol Citereup kemudian gunakan GPS dengan patokan Jonggol Garden. Di dalam GPS terdapat 3 rute, ambil rute yang melewati jalur Kelapa Nunggal, memang jauh tapi di jalur ini medan jalan sudah teraspal dan bisa dilalui dengan mobil. Jika sudah sampai di Jonggol Garden, arakan kendaraan sekitar 300 meter ke depan ke arah Goa Ciwadon dan parkirkan kendaraan di salah satu rumah penduduk.

Kemudian dilanjutkan dengan trekking 100 meter ke depan. Tidak ada petunjuk apapun, saran saya gunakan penduduk lokal untuk jadi guide mengantarkan ke Curug Sedong dengan biaya sukarela. Untuk trekking 1 jam dari parkiran kendaraan, selama trekking, anda akan disuguhkan dengan keindahan panorama sekitar. Dan di lokasi ini belum ada tiket masuk. Jangan lupa bawa bekal sendiri (makanan dan minuman), karena di lokasi curug tidak ada warung.

Sungai Di Probolinggo Ini Memiliki 2 Mata Air

Written By Backpankers on Kamis, 18 Januari 2018 | 21.32

sungai di probolinggo memiliki 2 mata air
sungai di probolinggo memiliki 2 mata air
sungai di probolinggo memiliki 2 mata air
sungai di probolinggo memiliki 2 mata air
Jauh dari nuansa keramaian kota, letaknya berada di Desa Tiris dan satu wilayah dengan Danau Ranu Segaran. Pemandian alami ini memiliki dua mata air yang berbeda yang mengalir pada satu sungai. Konon, panas yang dihasilkan merupakan satu muara dengan aktifitas Gunung Bromo. Sumber mata air masih alami dan belum tersentuh modernisasi alam.

Usai dari Taman Nasional Gunung Bromo, aku dan Yen menuju homestay terlebih dahulu dengan menggunakan sepeda motor sewaan dari terminal Probolinggo. Berjarak 8 kilometer, kami tiba di homestay untuk check in terlebih dahulu lalu menaruh ransel dan beristirahat sejenak. Sekelumit rasa lelah melumat sekujur tubuh.

Dan sekitar pukul 13.00 WIB, Yen mengajakku untuk mengunjungi pemandian air panas alami yang terletak di Desa Tiris. Berjarak 43 kilometer dari kota dengan titik kordinat Danau Ranu segaran yang terdeteksi di Google Map. Kami berangkat menuju ke lokasi menggunakan sepeda motor.

untuk menghemat waktu kulajukan sepeda motor dengan kecepatan tinggi berpacu dengan kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di ruas jalan besar. Sementara Yen menjadi navigator perjalanan mengikuti petunjuk rute yang tertera pada Google Map. Melewati hamparan sawah yang berada di kanan-kiri ruas jalan besar lalu melintasi perkebunan pohon jati yang terbelah oleh jalan beton dengan beberapa titik yang masih dalam perbaikan, penuh dengan kelokan-kelokan tajam.

Dan saat memasuki Desa Segaran, kondisi jalan berbatu sehingga aku harus menurunkan kecepatan sepeda motor. Suasana yang sepi dari kendaraan-kendaraan yang melintas membuatku leluasa saat berkendara. Setelah itu memasuki Desa Tiris dengan jalan yang juga berbatu. Dan 500 meter di depan terlihat banner yang menempel di tembok sebagai penanda pintu masuk.

Kubelokkan sepeda motor memasuki gang sempit yang hanya berukuran satu mobil sedan. Terlihat pos loket yang tutup, serta beberapa anak kecil yang sedang bermain, perlahan-lahan kulajukan sepeda motor mengikuti jalan dan melewati Danau Ranu Segaran hingga sampai di ujung pertigaan tempat parkiran mobil.

Lalu kubelokkan sepeda motor ke kiri menurun tajam ke bawah lurus terus hingga sampai di parkiran sepeda motor. Kemudian kami melanjutkan dengan berjalan kaki 200 meter ke depan. Saat itu, kami tidak dikenakan tiket masuk sementara di lokasi terdapat warung yang sedang tutup, 2 kamar mandi umum dan beberapa bangku yang memanjang.

Kutaruh dry bag di salah satu bangku dan beristirahat sejenak setelah perjalanan panjang. Di dalam kolam terlihat 2 pria paruh baya yang sedang duduk berendam tanpa sehelai pakaian. Sementara dari dalam warung keluar bapak tua dengan senyum ramahnya menyambut kehadiran kami.

sungai di probolinggo memiliki 2 mata air
sungai di probolinggo memiliki 2 mata air
sungai di probolinggo memiliki 2 mata air
sungai di probolinggo memiliki 2 mata air
Sejurus kemudian, Yen melepaskan pakaiannya lalu berjalan masuk ke dalam kolam air panas dan berendam di dalamnya. Setelah itu, aku menyusul lalu duduk berendam di sampingnya. Kemudian kusapa kedua pria paruh baya tersebut yang langsung disambut dengan senyum ramah tamahnya sambil menutupi kemaluan dengan kedua tangannya.

Sementara itu, kami tidak menghiraukan dengan keadaan yang seperti itu. Kami hanya berendam menikmati sensasi air panas di dalam kolam yang berada di tepi sungai dengan kedalaman air yang hanya setinggi betis orang dewasa dengan suhu air panas yang mencapai 5 derajat. Sementara gelembung-gelembung kecil layaknya minuman bersoda menyembul keluar dari dalam tanah. Dan di sisi kolam di sekat dengan batu-batu kali yang terbungkus kawat.

Hal itu dilakukan oleh warga setempat agar lumpur-lumpur yang berasal dari sungai tidak bercampur ke dalam kolam air panas. Sebenarnya di lokasi sekitar terdapat 6 titik air panas lagi hanya saja tempat-tempat yang lainnya sudah bercampur dengan lumpur yang terhempas oleh aliran air sungai.

Dan menurut kedua pria paruh baya yang berendam tersebut, air panasnya dipercaya sebagai terapi pengobatan seperti gatal-gatal, panu dan penyakit kulit lainnya. Sementara di sekeliling air panas ditumbuhi rimbunnya pepohonan yang sangat asri. Cukup lama kami berendam di kolam air panas dengan aroma belerang yang tidak terlalu kuat.

Saat aku sedang bercengkarama dengan kedua pria paruh baya itu, Yen beranjak dari dalam kolam dan berpindah ke sungai dengan aliran airnya yang sangat dingin dengan kedalaman sebetis orang dewasa. Lalu Yen memanggilku untuk merasakan sensasi dingin air sungai tersebut. Aku pun tergoda dan beranjak dari kolam air panas berpindah ke sungai berendam bersamanya.

Berhubung waktu sudah semakin sore, sekitar pukul 16.30 WIB, aku mengajak Yen untuk menyudahi aktifitas berendam. Setelah itu, kami berjalan menuju kamar mandi umum untuk mengganti pakaian dan kemudian berjalan menuju parkiran sepeda motor, lalu membayar parkiran kepada bapak tua yang menjaga sepeda motor. Setelah itu, kulajukan sepeda motor untuk kembali ke homestay dengan menggunakan Google Map sebagai petunjuk jalan.

How To Get There ??. Jika kamu sudah berada di Kota Probolinggo, gunakan Google Map dengan titik kordinat di Danau ranu Segaran, karena lokasinya yang masih satu area dengan danau tersebut lalu arahkan kendaraan dengan mengikuti rute yang tertera pada Google Map. Untuk parkiran mobil dan sepeda motor sangat berbeda, jadi saran aja untuk kesini menggunakan sepeda motor, karena dari lokasi parkir sepeda motor sudah tidak begitu jauh lagi yang dilanjutkan dengan jalan kaki.

Curug Ciampea: Airnya Super Jernih Sebening Kaca

Written By Backpankers on Selasa, 01 Agustus 2017 | 20.04





Satu lagi spot air terjun yang bertetanggaan dengan Curug Cipeteuy ini bernama Curug Ciampea atau Curug Cipata. Namun warga setempat menyebutnya dengan nama Green Lagoon. Curug yang berlokasi di Desa Tapos 1, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat ini memiliki pesona alam dengan udaranya yang bersih dan airnya yang super jernih sebening kaca.

Hari minggu pagi (23/07/17) sekitar pukul 08.00 WIB, sebelum Renni kembali ke Bandung pada sore hari, aku mengajaknya mengunjungi Curug Ciampea yang letaknya bertetanggaan dengan Curug Cipeteuy. Rencananya ingin ke Curug Balong Endah, namun rencana itu aku alihkan ke Curug Ciampea karena pertimbangan harga tiket masuk yang harus dibayar sebanyak 3X.

Setelah keluar dari penginapan dengan menggunakan sepeda motor, kami berangkat menuju Curug Ciampea. Namun sebelumnya, kami berhenti di Indomart untuk membeli bekal seperti air mineral dan lain-lain. Setelah itu kembali melanjutkan perjalanan dengan melewati rute yang sama menuju Curug Luhur dan Curug Cipeteuy.

Di pertengahan jalan, kami sempat berhenti di salah satu rumah makan untuk sarapan terlebih dahulu. Usai makan, perjalanan pun dilanjutkan kembali. Di butuhkan waktu kurang lebih 45 menit untuk menuju Curug Ciampea dengan rute yang berkelok-kelok dan naik turun yang dihiasi dengan panorama pemandangan landscape Gunung Halimun Salak.

Setelah melewati Curug Luhur dan akses masuk Curug Cipeteuy, kurang lebih sekitar 2 kilometer di depan terdapat plang Curug Ciputri yang menjadi akses masuk menuju Curug Ciampea. Keberadaan plang tersebut sangat kecil sehingga kejelian mata benar-benar di uji. Aku pun membelokkan sepeda motor dan masuk ke dalam dengan kondisi jalan yang bebatuan dan belum beraspal dengan lebar jalan yang hanya cukup dilalui oleh 1 mobil.

Berjalan menanjak keatas dengan kondisi jalanan yang penuh bebatuan dan belum bagus cukup melelahkan tangan karena harus menyeimbangkan beban tubuh masing-masing. Kemudian terdapat pertigaan dengan plang informasi yang menempel di dinding rumah, aku membelokkan sepeda motor ke kanan. Karena jika lurus menuju Curug Ciputri.

Kondisi jalan sudah membaik, hanya saja lebar jalanan hanya cukup dilalui dengan sepeda motor. Berjalan menurun curam ke bawah melewati rumah-rumah warga setempat dan sesekali harus menanjak ke atas. Beberapa meter di depan tampak areal persawahan milik warga setempat yang sudah menguning degan kondisi jalan yang landai dan berkelok-kelok kemudian menanjak lagi ke atas.





Saat ingin sampai di gerbang pintu masuk, terdapat salah satu warga setempat, mengarahkan kami untuk memarkirkan sepeda motornya di salah satu villa, karena akses menuju ke atas sedang di bangun oleh warga setempat. Setelah memarkirkan sepeda motor. Kami melanjutkan trekking menuju loket pintu masuk.

Cukup lelah, karena kami harus trekking menanjak ke atas melalui jalan pintas dari villa yang di beritahu oleh salah satu warga yang menjaga parkiran menuju loket pintu masuk. Setelah mencapai loket pintu masuk, kami beristirahat sejenak di bale bambu yang membentuk kursi, lalu membayar tiket masuk sebesar Rp.15.000 per orang.

Terlihat salah satu warga setempat lainnya sedang membuat jalan dari bebatuan yang di tumpuk-tumpuk. Usai mengembalikan energi yang terkuras, aku dan Renni melanjutkan trekking kembali menanjak ke atas dengan melewati hutan pinus. Suasana hening mulai merambat saat memasuki areal hutan pinus. Nyanyian kicauan burung sesekali bergema yang seakan-akan menyambut kedatangan para pengunjung.

Dibutuhkan waktu kurang lebih 1 jam untuk trekking dengan tekstur jalan yang bertanah dan sesekali menanjak keatas. Karena lelah, aku dan Renni beristirahat sejenak duduk di atas batu sambil menikmati hembusan udara segar dengan panorama barisan pohon-pohon pinus dan tumbuhan-tumbuhan lainnya yang tumbuh liar di areal sekitar.

Kurang lebih 15 menit beristirahat, kami melanjutkan perjalanan kembali dengan kondisi jalan yang landai. Dan beberapa meter di depan sudah terdengar alunan gemericik air yang mengalir deras sebagai tanda bahwa keberadaan Curug Ciampea sudah tidak jauh lagi. Namun kami harus berjalan menanjak ke atas untuk ke sekian kalinya.

Sesampainya di atas, terdapat beberapa warga setempat yang menjajakan barang dagangannya dan keberadaan Curug Ciampea pun sudah terlihat dari kejauhan yang seolah-olah mengumpat di balik pepohonan yang tumbuh subur menghijau. Aku dan Renni beristirahat sejenak di kursi yang terbuat dari bambu untuk mengembalikan energi yang terkuras selama trekking.

Setelah itu, berjalan menurun curam ke bawah. Perlahan-lahan kami melangkahkan kaki melewati anak tangga berbentuk tanah yang cukup licin sambil memegang bambu yang ada di samping sebagai pembatas. Sesampainya di bawah, sangat banyak warga setempat yang menjual makanan.


Aku dan Renni segera mencari tempat untuk menaruh barang. Setelah itu, aku menceburkan diri di kolam Curug Ciampea yang super jernih, dingin dan segar. Di kolam ini, kedalaman air tidak begitu dalam hanya setinggi betis orang dewasa. Namun aliran air Curug Ciampea cukup deras menghujam ke bawah dari ketinggian.

Usai bermain air di kolam Curug Ciampea, kami berpindah tempat ke Green Lagoon yang tidak jauh dari kolam Curug Ciampea. Di lokasi ini berbentuk kolam alami yang terhimpit oleh bebatuan membentuk dinding dan juga terdapat air terjun mini yang berasal dari aliran air Curug Ciampea. Kedalaman airnya mencapai 2 meter, sehingga pengunjung bisa melakukan Cliff Jumping dari atas.

Berhubung belum banyak pengunjung yang datang, aku berkali-kali berenang di Green Lagoon dan menikmati kejernihan airnya yang begitu segar dan dingin. Kemudian beranjak ke atas untuk beristirahat sambil memasak air dengan menggunakan kompor portable yang aku bawa untuk membuat teh hangat.

Saat itu, kondisi cuaca sangat mendung. Sesekali hujan gerimis turun, Dan sesaat kemudian, tampak beberapa pengunjung mulai berdatangan. Di sela-sela aku sedang menikmati teh hangat, mendadak hujan gerimis sedikit membesar. Aku dan Renni terpaksa memindahkan barang-barang bawaan ke salah satu warung yang menggunakan terpal sebagai penutupnya.

Hanya beberapa saat, hujan kembali reda. Aku dan Renni berjalan ke bawah menuju spot curug lainnya yang tidak jauh dari toilet umum. Di lokasi ini, aliran air curug seakan-akan keluar dari balik pohon dengan debit air yang tidak begitu deras, sementara untuk kolamnya tidak terlalu dalam, hanya setinggi mata kaki orang dewasa.

Tidak begitu lama berada di tempat tersebut, aku mengajak Renni untuk menuju ke bawah lagi. Setelah mengambil barang-barang bawaan yang kami taruh di salah satu warung, kami berjalan ke bawah melewati bebatuan yang licin dan extra hati-hati menuju ke salah satu spot lainnya yang berbentuk kolam alami yang di hiasi dengan air terjun mini yang berasal dari aliran air Curug Ciampea.

Di tempat ini, terlihat beberapa orang yang sedang berenang. Setelah menaruh barang di atas bebatuan. Aku kembali menceburkan diri di dalam kolam alami tersebut dengan kedalaman air kurang lebih sekitar 2 meter dan bisa melakukan Cliff Jumping dari atas batu dekat kolam alami tersebut.




Meskipun diameter kolam alami tersebut tidak terlalu besar, tapi cukup membuatku berenang kesana-sini menikmati kejernihan airnya yang segar dan dingin. Setelah itu, kembali menuju barang-barang yang aku taruh dan beristirahat sejenak menikmati panorama alam sekitar yang di balut dengan hembusan udara dingin.

Berhubung sore hari Renni harus kembali ke Bandung, sekitar pukul 13.00 WIB, aku memutuskan untuk menyudahi aktifitas di Curug Ciampea dan harus kembali ke penginapan untuk mengambil sebagian barang yang tidak kami bawa. Setelah membereskan barang bawaan dan tidak ada lagi yang tertinggal, kami trekking menuju ke atas melewati jalur semula dan sesampainya di atas, kami beristirahat sejenak di salah satu warung yang berbentuk saung karena kelelahan.

Tidak berapa lama kemudian, hujan pun turun dengan derasnya. Terpaksa kami dan beberapa pengunjung lainnya harus berteduh di dalam warung tersebut sambil menunggu hujan reda. Kurang lebih 1 jam berada di dalam warung, dan kondisi hujan sudah reda, kami melanjutkan trekking menuju parkiran motor.

Renni pun memakai jas hujan plastik yang di bawanya. Dengan melewati jalur hutan pinus untuk kembali, kondisi jalan sedikit licin akibat air hujan. Dan di pertengahan jalan, hujan kembali turun dengan derasnya, aku pun berhenti sejenak untuk memakai jas hujan plastik untuk melindungi barang-barang.

Hujan tak kunjung reda, kami tetap berjalan perlahan-lahan menuju parkiran motor. Sesampainya di areal parkiran, setelah membayar parkir Rp.5.000, kami segera berjalan menuju penginapan. Namun sesekali Renni harus turun dari sepeda motor, karena kondisi jalan yang licin dan menurun curam ke bawah. Setelah itu, kembali lagi naik motor dan melanjutkan perjalanan hingga akhirnya tiba di penginapan untuk mengambil barang-barang yang tidak kami bawa.

Di penginapan, saat Renni berbilas diri, aku packing barang-barang yang ku bawa. Kemudian menunggunya di depan kamar. Selang beberapa menit kemudian, Renni keluar kamar dan kami bersiap-siap untuk check out dan melanjutkan perjalanan menuju terminal bus Baranangsiang mengantarkan Renni untuk naik bus menuju Bandung.

Saat memasuki kota Bogor, kondisi jalan di areal Kebun Raya Bogor sejumlah kendaraan tampak berjalan merayap. Untuk menuju terminal Baranangsiang, kami harus memutari Kebun Raya Bogor terlebih dahulu, karena akses disini sudah menjadi satu jalur. Dan setelah melewati Botani Square, kami melewati jalur tol untuk berputar balik lalu belok kiri dan kondisi jalan di depan sagat macet. Cukup jauh untuk mencari jalan putar balik karena beberapa diantaranya di tutup dan dijaga oleh kepolisian setempat untuk mengurai kemacetan.

Setelah berputar balik dan berjalan lurus ke depan, aku membelokkan sepeda motor memasuki areal terminal bus Baranangsiang. Tepat di depan kantor pos jaga kepolisian. Aku menghentikan sepeda motor dan Renni pun turun dari motor kemudian berjalan menuju bus yang akan dinaikinya, setelah itu aku melanjutkan perjalanan kembali menuju rumah, dan saat itu cuaca tetap mendung.

How To Get There ??.

Jika kamu berasal dari Jakarta menggunakan mobil atau motor. Arahkan mobil menuju Bogor, sesampainya di kota Bogor, arahkan kendaraan menuju Bogor Trade Mall (BTM) lalu ambil jalur kiri lurus terus hingga terdapat pertigaan lampu merah kemudian belok kanan ke arah Ciapus. Ikuti jalan utama, nanti bertemu jalan yang bercabang, jika ke kanan ke arah Ciomas, ke kiri ke arah Ciapus, ambil jalur kiri lurus terus dan ikuti jalan utama hingga akhirnya bertemu pertigaan tempat angkot-angkot ngetem, kemudian belok kanan ke arah Curug Luhur.

Terus ikuti jalan utama tersebut hingga menemui Curug Luhur. Sampai disini kurang lebih sekitar 5 kilometer lagi menanjak ke atas, nanti akan ada plang Situs Arca Domas. Jika belok kiri menuju Curug Cipeteuy dan Situs Megalitik Arca Domas, anda masih lurus terus ikuti jalan utama dan berjalan perlahan-lahan lalu lihat di sebelah kiri terdapat plang kecil bertuliskan Curug Ciputri.

Belok ke kiri, kondisi jalan disini sangat offroad (rusak parah) dengan menanjak ke atas sementara ukuran badan jalan hanya bisa dilalui dengan 1 mobil, jika berpapasan dengan mobil lain yang berlawanan, salah satu mobil harus mengalah. Ikuti jalan tersebut hingga bertemu pertigaan, Disini terdapat plang kecil yang menempel di dinding rumah warga.

Jika lurus terus menuju Curug Ciputri, belok kanan menuju Curug Ciampea dan ikut jalan tersebut dengan kondisi jalan yang menurun curam dan menanjak ke atas melewati rumah-rumah warga dan areal persawahan, sampai tiba di salah satu vila yang menjadi akhir perjalanan untuk memarkirkan kendaraan kemudian dilanjutkan dengan trekking selama 1 jam (tergantung jalan) untuk mencapai Curug Ciampea melewati hutan pinus dengan harga tiket masuk Rp.15.000 per orang.


NOTES: Saran saya sebaiknya anda menggunakan sepeda motor untuk mengunjungi Curug Cipeteuy, kemudian membawa bekal sendiri (beli di indomart atau alfamart), dan bawalah bekal makanan yang dibutuhkan. Sampai di lokasi buanglah sampah pada tempatnya atau bawa kembali sampahmu untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Kombinasi Sempurna Antara Situs Sejarah Dan Pesona Alam





Berbicara tentang pesona alam kota Bogor takkan ada habisnya. Kota yang dijuluki sebagai kota hujan ini, begitu banyak menyimpan keindahan panorama alam yang dapat menghipnotis mata. Kota yang terletak tidak jauh dari Jakarta ini, bukan saja memiliki keanekaragaman wisata kulinernya melainkan banyak terdapat jejeran air terjun yang harus dikunjungi.

Salah satunya adalah Curug Cipeteuy yang berlokasi di Kampung Cibalay, Desa Tapos 1, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor. Curug tersebut masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Kawasan tersebut mulai dibuka sejak tahun 2000 an, hanya saja mulai ramai dikunjungi oleh traveler setahun belakangan ini.

Kebetulan saat itu, ada teman yang berasal dari Bandung ingin mengunjungi kota Bogor. Dan aku rekomendasikan untuk mengunjungi curug-curug yang ada di kota Bogor. Rencananya ingin kemping di area Curug Cipeteuy, namun 3 hari menjelang keberangkatan, suasana cuaca di Jabodetabek kerapkali di guyur hujan pada sore hari.

Keraguan pun muncul di benakku, kemudian aku memutuskan untuk tidak jadi kemping dan merubah rencana untuk mencari penginapan di sekitar wilayah Ciapus yang letaknya tidak begitu jauh dari lokasi curug tersebut. Renni pun menyetujui dengan rencana tersebut. Dan aku pun mulai mencari penginapan melalui aplikasi Traveloka.

Hari jumat pagi (21/07/17), aku mulai membooking penginapan Simply Room yang terletak di wilayah Ciapus melalui aplikasi Traveloka dan membayarnya melalui Indomart dengan tarif menginap Rp.147.000 per malam. Saat itu, aku hanya membooking untuk 1 malam di karenakan ingin melihat suasana cuaca di kota Bogor terlebih dahulu, jika cuaca cerah rencananya mau kemping tapi jika masih hujan terpaksa harus bermalam lagi di penginapan tersebut.





Saat sore hari setelah menyelesaikan rutinitas seperti biasanya, aku pulang ke rumah dan packing dengan membawa perlengkapan yang hanya dibutuhkan. Setelah itu berangkat menuju penginapan menggunakan sepeda motor. Namun saat di sekitar wilayah Bogor Trade Mall, hujan turun dengan derasnya. Aku pun menepikan sepeda motor di salah satu ruko untuk berteduh sambil menunggu hujan reda.

Hal ini pun aku konfirmasikan ke Renni yang sedang di dalam bus menuju perjalanan ke kota Bogor. 30 menit kemudian, hujan pun reda, aku melanjutkan perjalanan kembali menuju penginapan. Sesampainya disana, aku langsung cek in dan masuk ke dalam kamar. Penginapan tersebut hanya memiliki 6 kamar yang menjadi satu dengan rumah si pemilik penginapan.

Lama aku menunggu kedatangan Renni hingga sempat tertidur sesaat. Sekitar pukul 23.00, aku terbangun dan menanyakan posisi Renni yang saat itu sudah memasuki kota Bogor, aku pun segera keluar dari penginapan dan berjalan menuju terminal Baranangsiang untuk menjemput Renni.

Sesampainya di depan terminal Baranangsiang, bus tersebut belum masuk ke dalam terminal. Aku tetap menunggu di pintu masuk terminal sambil memesan secangkir kopi susu hangat. Tidak berapa lama, bus yang di naiki Renni pun tiba dan berjalan perlahan-lahan masuk ke dalam terminal lalu berhenti.

Sejenak pandangan ku beralih ke pintu bus dan memandang tiap-tiap penumpang yang turun keluar dari dalam bus. Setelah melihatnya, aku pun melambaikan tangan sambil memanggil namanya. Renni pun menghampiri ku, lalu menaiki sepeda motor dan berjalan menuju penginapan untuk beristirahat karena esok hari harus berangkat sepagi mungkin menuju Curug Cipeteuy.


Hari sabtu pagi (22/07/17), sekitar pukul 08.00 WIB, setelah bangun tidur, kami berangkat menuju Curug Cipeteuy dengan sepeda motor. Namun saat keluar dari lokasi komplek penginapan, kami berhenti di Indomart untuk membeli bahan baku kebutuhan seperti air mineral dan lainya. Dan tidak jauh dari tempat tersebut, kami makan sarapan lontong sayur terlebih dahulu.

Usai sarapan, kami melanjutkan perjalanan. Kondisi jalan sangat bagus dan di sepanjang jalan terdapat beberapa plang informasi seperti Situs Batu Tapak, Situs Punden Berundak, Kampung Sindang Barang, Pura Parahyangan dan juga keberadaan Curug Luhur. Namun di beberapa titik terdapat jalanan yang rusak dan berlubang.

Sekitar kurang lebih 45 menit perjalanan, kami tiba di sebuah gang yang terdapat plang Situs Arca Domas, disitu aku membelokkan sepeda motor dan masuk ke dalam. Kondisi jalan hanya bisa dilalui sepeda motor dengan tekstur jalan yang di semen bercampur kerikil yang menanjak ke atas dan turun ke bawah yang sedikit curam. Namun di sepanjang jalan mata ku di suguhi dengan panorama alam dan pemandangan sawah-sawah yang sudah menguning.

Setelah memarkirkan sepeda motor di salah satu rumah warga setempat, kami melanjutkan trekking menuju pintu masuk Curug Cipeteuy dengan kondisi jalan yang penuh dengan bebatuan bercampur tanah. Kurang lebih 20 menit trekking, kami tiba di pintu masuk Situs Cibalay. Untuk tiket masuk Rp.15.000 per orang.

Sebelum menuju ke Curug Cipeteuy, kami menyempatkan diri untuk mengunjungi Situs Cibalay. Trekking ke atas melalui anak tangga yang terbuat dari tanah dan melewati hutan pinus, sudah tampak bebatuan beberapa situs megalitikum. Kawasan tersebut merupakan lokasi situs megalitik Batu Cibalay yang terdiri dari Situs Kramat Endong Kasang, Situs Balekambang, Situs Arca Domas, Situs Jamipaciing dan Situs Pasir Manggis.




Dari kelima situs tersebut bentuk dan tipe ukurannya berkisar antara 2000 – 3000 SM. Temuan pertama dilaporkan oleh NJ Krom tahun 1914 dalam “Rapporten van den Oudheidkundige Diensten Nederlandsch-indie 1914: Inventaris derhindoe oudheden. Batuan megalitik Cibalay berupa punden berundak, menhir dan batu tegak/ batu kubur yang dalam penempatan dan susunannya tidak terarah pada suatu sudut.

Situs Cibalay juga dijadikan pemakaman karena di Situs Balekambang dan Situs Jamipaciing terdapat nama-nama Mangutapak, Patah Aki Soleh, Eyang Nuralam yang di makamkan dekat atau berdampingan dengan situs megalitik tersebut. Lokasi situs pun di pagari dengan kawat, saat itu kami sangat beruntung diperbolehkan masuk ke dalam areal tersebut oleh penjaganya dan melihat lebih dekat keberadaan situs-situs megalitik tersebut.

Usai berkeliling di sekitar situs megalitik, kami menuju ke Curug Cipeteuy dengan menuruni anak tangga yang terbuat dari tanah tanah lalu berjalan ke arah kanan dengan trek yang sangat landai lalu turun ke bawah memasuki hutan pinus lagi. Di lokasi ini lah yang menjadi tempat perkemahan untuk yang mau kemping.

Tiba di area perkemahan, kami berjalan menuju Curug Cipeteuy yang berbentuk kolam alami yang dihiasi dengan air terjun mini dengan aliran air jernih yang sangat deras. Saat itu hanya ada aku dan Renni saja. Sejenak menikmati suasana alam yang begitu tenang dan damai. Lalu aku mengeluarkan kompor portable untuk memasak air.

Sambil menunggu air matang, aku menceburkan diri di dalam kolam alami Curug Cipeteuy dan berendam di dalamnya. Kedalaman air hanya setinggi lutut orang dewasa, airnya sangat jernih dan bersih, sehingga aku pun betah di dalam kolam meskipun dingin. Setelah itu, aku pun beranjak dari dalam kolam karena air sudah matang lalu membuat teh tarik hangat untuk di minum.




Tak lama kemudian ada 2 orang lain yang datang ke tempat tersebut. Mereka berasal dari kota Bogor. Kami sempat ngobrol sebentar, karena saat itu turun hujan gerimis yang mengharuskan kami untuk berpindah tempat kembali ke areal perkemahan. Karena di tempat tersebut terdapat gubuk-gubuk yang sepertinya digunakan oleh warga setempat untuk berjualan.

Aku dan renni berteduh di salah satu gubuk tersebut karena sedang tidak digunakan oleh pemiliknya. Usai hujan gerimis berhenti, aku dan Renni berjalan menuju Curug Segitiga yang spotnya berada di bawah Curug Cipeteuy. Untuk menuju kesana, kami harus berjalan melewati Curug Cipeteuy dan menyisir aliran air sampai di ujung.

Terdapat jembatan yang terbuat dari bambu menurun curam ke bawah. Jembatan ini hanya bisa di lalui oleh satu orang secara bergantian. Setelah Renni turun terlebih dahulu, aku pun menyusulnya dengan berjalan perlahan-lahan. Di lokasi ini, keindahan yang tersembunyi sangat terlihat.

Setelah menaruh barang bawaan, aku dan Renni menikmati kolam-kolam alami dengan air yang super jernih. Setelah itu, kami berjalan menyisir ke kanan menuju Curug Segitiga. Seperti lorong yang di himpit oleh bebatuan dan harus masuk ke dalam air untuk menuju curug tersebut. Di namakan Curug Segitiga karena di sisi kanan curug tersebut terdapat goa yang berbentuk segitiga.

Saat itu tak ada seorang pun di lokasi tersebut selain aku dan Renni. Sementara kedalaman air yang ada di Curug Segitiga kurang lebih sekitar 2-3 meter. Suasana hening dan sunyi, ku rasakan di area tersebut, benar-benar tenang dan sangat damai. Cukup lama kami berada di lokasi tersebut, hingga akhirnya harus kembali ke atas untuk menelusuri spot lainnya.




Setelah merapikan barang bawaan, Renni naik ke atas terlebih dahulu melalui jembatan tersebut yang kemudian ku susul secara perlahan-lahan. Sampai di atas, kami berjalan menuju Leuwi Anteng yang berada tidak jauh dari area perkemahaan. Dan lokasi tersebut sangat mudah untuk di temui.

Di Leuwi Anteng terbentuk kolam alami dengan aliran air deras yang membentuk air terjun mini. Di lokasi tersebut airnya pun sangat jernih dan untuk kedalamannya sekitar kurang lebih 2 meter. Aku pun kembali berendam di dalamnya meskipun hanya sebentar. Sesekali, aku menoleh ke atas melihat cuaca, karena awan yang terlihat mendung.

Keberadaan kami di Leuwi Anteng tidak begitu lama, dan kembali ke area perkemahan untuk menikmati alam sekitar yang di kelilingi oleh hutan pinus. Kami bertemu kembali dengan kedua orang tersebut yang kami temui di Curug Cipeteuy. Setelah ngobrol dengan mereka, aku membuka matras lalu memasak air kembali, setelah itu memasang hammock.

Cukup lama kami berada di area perkemahan untuk menikmati panorama alam sekitar, hingga akhirnya karena suasana cuaca yang sangat mendung dan terlihat sebentar lagi akan turun hujan, aku memutuskan untuk kembali ke penginapan. Setelah membereskan barang bawaan, kami berjalan melintasi hutan pinus menuju parkiran motor.

Sesampainya di parkiran motor dengan membayar parkir sebesar Rp.5.000, kami segera kembali ke penginapan dengan berjalan perlahan-lahan karena kondisi jalan yang basah, menanjak dan menurun curam. Setibanya di jalan utama dan saat melintasi Curug Luhur, hujan pun turun deras, kami terpaksa berhenti di salah satu warung untuk berteduh sampai hujan reda.

Kurang lebih 20 menit kemudian, hujan reda, kami melanjutkan perjalanan kembali, namun di pertengahan jalan, hujan kembali deras dan terpaksa kami harus berhenti lagi untuk berteduh di salah satu warung. Cukup lama kami berada disini duduk menanti hujan reda. Kurang lebih sekitar 30 menit berlalu, hujan kembali reda, kami melanjutkan perjalanan lagi hingga akhirnya tiba di penginapan.




How To Get There ??.

Jika kamu berasal dari Jakarta menggunakan mobil atau motor. Arahkan mobil menuju Bogor, sesampainya di kota Bogor, arahkan kendaraan menuju Bogor Trade Mall (BTM) lalu ambil jalur kiri lurus terus hingga terdapat pertigaan lampu merah kemudian belok kanan ke arah Ciapus. Ikuti jalan utama, nanti bertemu jalan yang bercabang, jika ke kanan ke arah Ciomas, ke kiri ke arah Ciapus, ambil jalur kiri lurus terus dan ikuti jalan utama hingga akhirnya bertemu pertigaan tempat angkot-angkot ngetem, kemudian belok kanan ke arah Curug Luhur.

Terus ikuti jalan utama tersebut hingga menemui Curug Luhur. Sampai disini kurang lebih sekitar 2 kilometer lagi menanjak ke atas, nanti akan ada plang Situs Arca Domas. Arahkan kendaraan belok kiri menuju Situs Megalitik Arca Domas, lalu ikuti jalan utama yang tidak terlalu besar hingga terdapat plang informasi parkir kendaraan di salah satu rumah warga.

Dan perjalanan di lanjutkan dengan trekking kurang lebih 20 menit melewati perkebunan warga dengan jalan yang masih bebatun bercampur tanah. Dengan kondisi jalan yang landai dan sedikit menanjak, nanti terlihat bebatuan Situs Megalitik yang berhamburan. Untuk harga tiket masuk Rp.15.000 per orang dan biaya parkir motor Rp.5.000


NOTES: Saran saya sebaiknya anda menggunakan sepeda motor untuk mengunjungi Curug Cipeteuy, kemudian membawa bekal sendiri (beli di indomart atau alfamart), dan bawalah bekal makanan yang dibutuhkan. Sampai di lokasi buanglah sampah pada tempatnya atau bawa kembali sampahmu untuk menjaga kelestarian lingkungan.

 
Support : Backpankers
Copyright © 2014. Backpankers - All Rights Reserved
Template Created by Backpankers Published by Backpankers