Latest Post

Curug Love: Keindahannya Ada Pada Goresan Bebatuan

Written By Backpankers on Sabtu, 22 September 2018 | 02.56





Perjalanan saya kali ini adalah ke Curug Love atau disebut juga Curug Catang oleh warga setempat yang merupakan salah satu curug yang masih jarang dikunjungi orang banyak karena minimnya informasi. Letaknya yang sangat jauh dari perkotaan, berada di Desa Bantar Karet, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Tempat wisata ini belum ada yang mengelolah sehingga tidak ada tiket masuk (gratis).

Dan untuk mencapai ke tempat ini dibutuhkan waktu sekitar kurang lebih dua jam perjalanan dari kota Bogor dengan medan jalan yang landai dan sudah teraspal baik. Untuk mencarinya pun tidaklah sulit karena lokasinya yang berdekatan dengan PT Antam Pongkor yang menjadi patokan jika menggunakan Gmap.

Keunikan dari Curug Love yang membuatnya berbeda dari curug-curug pada umumnya yang ada di wilayah Bogor adalah tempatnya yang bukan berada di lereng gunung atau bukit melainkan di tengah-tengah persawahan dan perkebunan yang di sekelilingnya bersandingkan bukit. Dan hanya membutuhkan waktu sepuluh menit trekking dari tempat parkiran sehingga tidak memerlukan tenaga ekstra.





Keindahan Curug Love adalah bentuk bebatuannya yang berkelok dan mengapit dengan goresan-goresan yang terbentuk alami akibat abrasi air yang mengalir di sepanjang lorong bebatuan serta air terjunnya yang berasal dari aliran air lereng bukit dengan ketinggian sekitar tiga meter. Dan di beberapa titik terdapat kolam-kolam yang kedalamannya sekitar satu setengah meter saat debit air tidak terlalu deras dengan warna air yang hijau. Namun jika musim hujan datang, maka debit air akan meninggi.

Sementara itu, di atas bebatuan Curug Love merupakan persawahan dan perkebunan sehingga tepi-tepi bebatuannya pun ditumbuhi oleh tanaman dan pepohonan serta terdapatnya selang-selang panjang yang airnya di manfaatkan oleh warga setempat untuk mengairi persawahan dan perkebunan. Sepintas Curug Love ini sangat mirip dengan Curug Putri yang ada di Pandeglang, Banten.

Dan waktu yang terbaik untuk mengunjungi salah satu wisata Indonesia yang berada di wilayah Bogor yang terbilang baru ini adalah pada pagi hari sekitar pukul delapan, karena sinar matahari yang membias akan menyinari lorong-lorong bebatuan yang mengapit serta warna airnya akan terlihat berbeda.

How To Get There ??.

Jika kamu berasal dari Jakarta menggunakan mobil atau motor, arahkan kendaraan ke Bogor dan gunakan Gmap dengan titik akhir perjalanan PT Antam Pongkor yang sebagai patokan. Jika sudah sampai di tempat tersebut anda harus menempuh sekitar 8 kilometer lurus ke depan ikuti jalan utama. Nanti akan melewati dua kali jembatan dan pada jembatan yang kedua bersebelahan dengan Indomart, belok ke kiri untuk memarkirkan kendaraan. Setelah itu, lanjut trekking selama 10 menit melewati persawahan..

Trekking Di Curug Jeblug Dan Curug Kembar

Written By Backpankers on Jumat, 21 September 2018 | 21.38



Bogor, selain dijuluki sebagai kota hujan, bisa juga disebut sebagai kota seribu curug. Pasalnya, kota yang memiliki topografi pegunungan dan perbukitan dengan iklim udara yang sejuk ini, memang terdapat banyak rentetan curug-curug, baik yang sudah tereksplorasi ataupun yang masih tersembunyi.

Adalah Curug Jeblug dan Curug Kembar yang menjadi tujuan saya kali ini bersama Mey dan Rico yang terletak di Desa Ciasihan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Nama kedua curug tersebut masih sangat asing di telinga dan memang belum di kenal umum oleh orang banyak.

Pesona Curug Jeblug Dan Curug Kembar





Bogor, selain dijuluki sebagai kota hujan, bisa juga disebut sebagai kota seribu curug. Pasalnya, kota yang memiliki topografi pegunungan dan perbukitan dengan iklim udara yang sejuk ini, memang terdapat banyak rentetan curug-curug, baik yang sudah tereksplorasi ataupun yang masih tersembunyi.

Adalah Curug Jeblug dan Curug Kembar yang menjadi tujuan saya kali ini bersama Mey dan Rico yang terletak di Desa Ciasihan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Nama kedua curug tersebut masih sangat asing di telinga dan memang belum di kenal umum oleh orang banyak. Kami berangkat sepagi mungkin dengan mengendarai sepeda motor dan jarak yang harus di tempuh selama 2.5 jam perjalanan dari Bojong Gede sebagai titik keberangkatan.

Setelah memasuki wilayah Leuwiliang, kami memilih rute jalan menuju Gunung Salak Balong Endah yang sangat landai kemudian melintasi medan jalan perbukitan yang naik-turun berpanoramakan pemandangan Gunung Salak yang bersanding dengan gumpalan-gumpalan awan putih yang menggantung di langit biru layaknya lukisan mahakarya sang maestro.

Sangat banyak rentetan curug-curug yang ada di wilayah Pamijahan yang terpampang jelas pada sebuah banner yang terikat di batang-batang pohon ataupun plang yang tertancap di tepi jalan sebagai petunjuk, kami terus melajukan sepeda motor dengan mengikuti rute yang tertera di Gmap menuju Curug Kiara yang menjadi titik akhir perjalanan kami.

Sesampainya di sana, kami memarkirkan sepeda motor di salah satu rumah warga, kemudian dilanjutkan dengan trekking menanjak ke atas di medan jalan yang berbatu melewati area persawahan dan pintu loket Curug Ciparay. Kami terus trekking hingga sampai di atas yang sudah di tunggu oleh Kang Robi yang menjadi pemandu kami menuju Curug Kembar dan Curug Jeblug.





Kedua curug tersebut belum di buka umum karena letaknya yang sangat jauh berada di dalam hutan, oleh sebab itu untuk mencapai kedua curug ini harus menggunakan warga setempat sebagai pemandu karena belum adanya petunjuk jalan menuju ke tempat tersebut.

Perjalanan pun di mulai dengan menapaki tangga batu lalu melewati parit buatan untuk aliran air yang mengairi persawahan dan perkebunan sepanjang kurang lebih 200 meter. Setelah itu, kami mulai memasuki jalan setapak perkebunan yang menurun kemudian melewati jembatan bambu dan kembali menanjak ke atas memutari bukit.

Suasana hening kian menyeruak setelah memutari bukit, kami harus melewati sebuah perkebunan dengan beragam tanaman. Kami terus berjalan mengikuti langkah Kang Robi yang berjalan di depan kemudian memasuki sebuah jalan setapak yang tertutupi oleh semak belukar, menerabas hutan belantara. Dan pada titik tertentu, kami harus berjalan menurun dengan penuh hati-hati karena sedikit curam.

Jarak yang harus kami tempuh sepanjang 2 kilometer dari titik pertemuan dengan Kang Robi dan diperlukan 1 jam perjalanan dengan langkah cepat yang tanpa henti. Kemudian kami tiba di hamparan bebatuan dan aliran air yang mengalir. Airnya cukup jernih layaknya kaca tapi bebatuan yang ada di aliran air tersebut terlihat kuning karena dampak dari Kawah Ratu yang masih satu jalur.

Kami terus berjalan di tepi aliran air lalu melompat dari satu batu ke batu yang lain hingga mencapai di Curug Kembar. Dinamakan Curug Kembar karena ada dua aliran air terjun yang jatuh bersamaan dari atas bukit yang menjulang tinggi.


Dalam lelah yang tak terbilang, kami beristirahat sejenak di Curug Kembar yang saat itu debit airnya sedang tidak deras. Lantas kami menuruni sebuah batu besar dengan merayap yang menjadi dinding aliran air. Cukup banyak kolam-kolam yang ada di tempat ini dengan kedalaman yang bervariasi.

Namun pandangan kami tergoda pada salah satu kolam dengan kedalaman sekitar dua meter yang di tengah-tengahnya terdapat batang pohon besar yang tumbang dan di aliri air. Batang pohon tersebut seolah-olah menjadi jembatan untuk melewati kolam tersebut. Cukup lama kami berada di kolam tersebut menikmati kesegaran airnya yang jernih, sementara Kang Robi menunggu di atas sambil mengawasi karena tidak ada seorangpun selain kami berempat.

30 menit kemudian, kami beranjak dari dalam kolam alami lalu mengajak Kang Robi untuk ke Curug Jeblug yang harus di tempuh selama 20 menit trekking melewati jalan setapak yang tertutupi semak belukar. Dinamakan Curug Jeblug karena ketika debit air terjun sangat deras (musim penghujan) akan mengeluarkan suara “blug-blug” saat menghantam kolam.

Sesampainya di Curug Jeblug, terdapat hamparan bebatuan dengan beragam bentuk ukuran yang menghiasi kolam alaminya yang sangat besar. Namun saat itu, debit air terjun yang mengalir dari atas tebing dengan ketinggian sekitar kurang lebih 8 meter tidak terlalu deras. Sesekali kami berendam di dalam kolamnya menikmati kesegaran air yang mengalir dalam balutan dingin yang mengiris setiap inci kulit.




Setelah itu, kami beristirahat sejenak duduk di sebuah batu besar sambil menatap dinding-dinding tebing di bawah hembusan udara sejuk yang berbisik di antara rimbunnya dedaunan bersanding dengan alunan gemericik air yang tumpah.

Saat sore datang, kami segera beranjak untuk kembali sebelum gelap malam datang mengikis terang. Lalu Kang Robi membawa kami melewati jalur yang berbeda dengan melompat dari satu batu ke batu yang lain di atas aliran air yang mengalir dan terdapat satu lagi curug mini, saya menyebutnya Curug Bantet karena bentuknya yang kecil.

Karena waktu yang terus bergulir, kami tidak berlama-lama berada di Curug Bantet karena harus cepat kembali dan kami trekking melewati jalan setapak yang berbeda, tertutupi rimbunnya semak belukar menerabas hutan belantara selama 1 jam hingga sampai di titik tempat kami bertemu dengan Kang Robi. Lalu kami membayar jasa pemandu sebesar Rp.150.000.




How To Get There ??.

Jika kamu berasal dari Jakarta menggunakan mobil atau motor. Gunakan Gmap dan jadikan Curug Kiara sebagai titik akhir perjalanan. Terdapat dua jalur yang tertera di Gmap, lewat jalur Dramaga dan lewat jalur Parung yang akan bertemu di wilayah Leuwiliang. Ambil jalur yang ke arah Gunung Bunder. Ikuti saja rute yang tertera di Gmap hingga sampai di Curug Kiara. Setelah memarkirkan kendaraan, perjalanan dilanjutkan dengan trekking naik ke atas. Untuk bisa mencapai kedua air terjun ini diharuskan memakai pemandu warga setempat karena lokasinya yang berada di dalam hutan dan rutenya belum di buka. Jangan lupa untuk membawa bekal makanan dan air mineral, karena selama trekking tidak ada warung. Pastikan kondisi tubuh dalam keadaan fit (tidak sakit), dibutuhkan waktu 1-2 jam trekking (tergantung jalan).


NOTES: Artikel ini juga di muat di Detik Travel

Basah-Basahan Seharian Di Curug Sedong Jonggol

Written By Backpankers on Minggu, 01 April 2018 | 19.09





Jangan meremehkan Jonggol, meskipun hanya bagian dari Kabupaten Bogor yang letaknya cukup jauh dari pusat kota. Namun di tempat ini banyak menyimpan potensi wisata yang sangat luar biasa. Baik itu keindahan panorama alamnya yang dikelilingi bukit-bukit hingga banyaknya curug-curug yang masih tersembunyi. Bukan hanya Curug Cipamingkis, Curug Country atau Curug Ciherang yang ada di Jonggol tapi masih banyak curug-curug lainnya yang belum terjamah.

Adalah Curug Sedong, salah satu destinasi terbaru yang belum terjamah oleh orang banyak karena letaknya yang sangat tersembunyi di dalam hutan belantara yang bersolek dengan rimbunnya pepohonan dan bukit-bukit yang mengelilinginya, di tambah lagi belum begitu banyak informasi mengenai keberadaannya.

Pada hari minggu (18/03/2018), berbekal sedikit informasi yang saya dapatkan saat browsing kemudian tertarik untuk mengunjunginya. Saya pun mengajak Mey dan Rico untuk menjejakkan kaki di Curug Sedong yang terletak di Desa Cibodas, Jonggol dan tidak begitu jauh dari Jonggol Garden dan Goa Ciwadon.

Sekitar pukul 09.00 WIB, saya janjian dengan Mey dan Rico di Alfamart Jalan Mayor Oking Cibinong. Setelah bertemu, kami mencocokkan GPS sebagai penunjuk jalan lalu berangkat dengan menggunakan sepeda motor. Ada tiga rute yang tertera di GPS namun kami memilih rute yang tercepat. Kami melewati wilayah Citeurep bersanding dengan hiruk pikuknya kendaraan yang melintas. Kelokan demi kelokan kami lalui dengan mengikuti jalur yang tertera di GPS.





Kemudian memasuki wilayah Leuwi Karet, sebuah jalan sempit yang menurun hanya bisa dilalui sepeda motor lalu melewati jembatan besi dan rumah-rumah penduduk hingga memasuki perkebunan yang sangat hening yang menjadi titik akhir medan jalan yang terbeton. Kemudian memasuki medan jalan yang berbatu, kami tidak menaruh curiga, kami terus melanjutkan perjalanan.

Tapi di lokasi inilah yang menjadi malapetaka buat kami karena di sepanjang jalur ini medan jalan rusak parah penuh bebatuan, tanah lembab bahkan lumpur yang terkadang landai, menanjak dan menurun. Tidak ada satupun rumah penduduk, kami terus melewati hutan belantara yang dipenuhi rimbunnya pepohonan.

Rasa lelah terus menghardik kami, bahkan beberapa kali Mey harus turun dari sepeda motor dan berjalan kaki saat Rico mencoba berjalan menanjak di medan jalan yang penuh bebatuan bercampur tanah lembab yang licin. Kami terus berjalan mengikuti jalur tersebut. Hingga pada akhirnya, kami berhenti di salah satu rumah penduduk dan bertanya kepadanya mengenai Curug Sedong.

Orang tersebut pun memberitahu jika keberadaannya masih jauh. Kami melanjutkan perjalanan kembali hingga di pertigaan Cioray yang dipenuhi rumah-rumah penduduk dan terlihat beberapa orang rombongan sepeda. Sejenak kami beristirahat sambil bertanya kepada salah satu penduduk yang sedang duduk di depan teras rumahnya dan orang tersebut pun mengarahkan kami untuk berjalan lurus.


Kemudian kami melanjutkan perjalanan kembali, hingga pada di satu titik dengan medan jalan yang penuh bebatuan bercampur tanah lembab dan sangat menanjak, masing-masing sepeda motor kami tidak sanggup untuk jalan menanjak. Rasa lelah meliputi tubuh kami dibawah hujaman teriknya matahari yang menyengat.

Saya dan Rico beristirahat sejenak karena kelelahan, sementara Mey menunggu diatas. Di tengah-tengah kepelikan yang menyelimuti, Rico mendorong sepeda motor saya, namun belum sampai atas, saya merasakan kelelahan yang teramat sangat dan beristirahat kembali dengan nafas yang tersengal-sengal.

Beberapa menit kemudian, saya membantu Rico mendorong sepeda motornya namun tidak sanggup karena sudah kehabisan tenaga. Saya meminta Rico untuk beristirahat sejenak. Dan sejurus kemudian datang sebuah mobil jeep yang ingin melewati jalur tersebut. Sontak saya yang sedang duduk beristirahat pun langsung berdiri dan kembali mendorong sepeda motor Rico hingga ke atas dan di taruh di salah satu rumah penduduk.

Setelah itu, Rico mendorong sepeda motor saya namun mesin motor sempat mati, beberapa kali di starter tidak mau menyala. Rico pun mengambil alih dengan memegang stang motor dan saya mendorongnya dari belakang sekuat tenaga. Seketika, mesin motor menyala, saya dan Rico terus mendorongnya hingga mencapai di salah satu rumah penduduk.




Kemudian kami menumpang beristirahat sejenak di rumah tersebut dengan sekujur tubuh yang benar-benar sudah tidak bertenaga. Bahkan pandangan saya pun sedikit kunang-kunang. Dan beberapa saat kemudian, rombongan orang-orang yang ada di dalam jeep itu pun berjalan menghampiri kami dan beristirahat di rumah tersebut. Jeep tersebut tidak bisa naik ke atas karena radiatornya panas.

30 menit kemudian, kami melanjutkan perjalanan di medan jalan yang benar-benar rusak parah. Hingga akhirnya memasuki Desa Cibodas dan berhenti di salah satu rumah penduduk yang di depannya adalah Goa Ciwadon. Kurang lebih 3 jam kami melalui medan jalan yang parah tersebut dan tiba pada pukul 13.00 WIB.

Setelah beristirahat, kami memulai trekking menuju Curug Sedong dan dibutuhkan waktu 1 jam untuk trekking melewati perkebunan yang gersang dengan panorama bukit-bukit sekitar, hamparan sawah dan menyeberangi aliran sungai hingga empat kali. Tidak ada petunjuk apapun di lokasi tersebut dan beberapa kali kami bertanya kepada beberapa petani yang sedang berladang atau melintas.

Mereka dengan senang hati menunjukkan jalan ke Curug Sedong. Dan benar saja, curug tersebut berada di balik rimbunnya pepohonan. Debit air yang turun yang sangat deras, ketinggian curug kurang lebih sekitar 3 meter dengan kolam alami yang menampung air yang mengalir dengan kedalaman sekitar 1.5 meter.

Sesaat kemudian, datang rombongan anak-anak kecil penduduk setempat, mereka melompat dari atas curug ke kolam alami dengan riangnya. Cukup menghibur kami di tengah-tengah rasa lelah yang menghardik. Sementara itu, diatas curugnya terdapat kolam dan curug mini lagi, Kedalaman kolamnya kurang lebih sekitar 2 meter. Warna airnya kehijau-hijauan. Cukup lama kami berada di tempat tersebut hingga pada pukul 16.00 WIB, kami harus kembali ke tempat parkiran. Curug Sedong belum di kelolah dan tidak ada tiket masuk.




How To Get There ??.

Jika anda dari Jakarta, arahkan kendaraan anda ke Cibinong. Jika lewat tol (untuk mobil) keluar tol Citereup kemudian gunakan GPS dengan patokan Jonggol Garden. Di dalam GPS terdapat 3 rute, ambil rute yang melewati jalur Kelapa Nunggal, memang jauh tapi di jalur ini medan jalan sudah teraspal dan bisa dilalui dengan mobil. Jika sudah sampai di Jonggol Garden, arakan kendaraan sekitar 300 meter ke depan ke arah Goa Ciwadon dan parkirkan kendaraan di salah satu rumah penduduk.

Kemudian dilanjutkan dengan trekking 100 meter ke depan. Tidak ada petunjuk apapun, saran saya gunakan penduduk lokal untuk jadi guide mengantarkan ke Curug Sedong dengan biaya sukarela. Untuk trekking 1 jam dari parkiran kendaraan, selama trekking, anda akan disuguhkan dengan keindahan panorama sekitar. Dan di lokasi ini belum ada tiket masuk. Jangan lupa bawa bekal sendiri (makanan dan minuman), karena di lokasi curug tidak ada warung.

Sungai Di Probolinggo Ini Memiliki 2 Mata Air

Written By Backpankers on Kamis, 18 Januari 2018 | 21.32

sungai di probolinggo memiliki 2 mata air
sungai di probolinggo memiliki 2 mata air
sungai di probolinggo memiliki 2 mata air
sungai di probolinggo memiliki 2 mata air
Jauh dari nuansa keramaian kota, letaknya berada di Desa Tiris dan satu wilayah dengan Danau Ranu Segaran. Pemandian alami ini memiliki dua mata air yang berbeda yang mengalir pada satu sungai. Konon, panas yang dihasilkan merupakan satu muara dengan aktifitas Gunung Bromo. Sumber mata air masih alami dan belum tersentuh modernisasi alam.

Usai dari Taman Nasional Gunung Bromo, aku dan Yen menuju homestay terlebih dahulu dengan menggunakan sepeda motor sewaan dari terminal Probolinggo. Berjarak 8 kilometer, kami tiba di homestay untuk check in terlebih dahulu lalu menaruh ransel dan beristirahat sejenak. Sekelumit rasa lelah melumat sekujur tubuh.

Dan sekitar pukul 13.00 WIB, Yen mengajakku untuk mengunjungi pemandian air panas alami yang terletak di Desa Tiris. Berjarak 43 kilometer dari kota dengan titik kordinat Danau Ranu segaran yang terdeteksi di Google Map. Kami berangkat menuju ke lokasi menggunakan sepeda motor.

untuk menghemat waktu kulajukan sepeda motor dengan kecepatan tinggi berpacu dengan kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di ruas jalan besar. Sementara Yen menjadi navigator perjalanan mengikuti petunjuk rute yang tertera pada Google Map. Melewati hamparan sawah yang berada di kanan-kiri ruas jalan besar lalu melintasi perkebunan pohon jati yang terbelah oleh jalan beton dengan beberapa titik yang masih dalam perbaikan, penuh dengan kelokan-kelokan tajam.

Dan saat memasuki Desa Segaran, kondisi jalan berbatu sehingga aku harus menurunkan kecepatan sepeda motor. Suasana yang sepi dari kendaraan-kendaraan yang melintas membuatku leluasa saat berkendara. Setelah itu memasuki Desa Tiris dengan jalan yang juga berbatu. Dan 500 meter di depan terlihat banner yang menempel di tembok sebagai penanda pintu masuk.

Kubelokkan sepeda motor memasuki gang sempit yang hanya berukuran satu mobil sedan. Terlihat pos loket yang tutup, serta beberapa anak kecil yang sedang bermain, perlahan-lahan kulajukan sepeda motor mengikuti jalan dan melewati Danau Ranu Segaran hingga sampai di ujung pertigaan tempat parkiran mobil.

Lalu kubelokkan sepeda motor ke kiri menurun tajam ke bawah lurus terus hingga sampai di parkiran sepeda motor. Kemudian kami melanjutkan dengan berjalan kaki 200 meter ke depan. Saat itu, kami tidak dikenakan tiket masuk sementara di lokasi terdapat warung yang sedang tutup, 2 kamar mandi umum dan beberapa bangku yang memanjang.

Kutaruh dry bag di salah satu bangku dan beristirahat sejenak setelah perjalanan panjang. Di dalam kolam terlihat 2 pria paruh baya yang sedang duduk berendam tanpa sehelai pakaian. Sementara dari dalam warung keluar bapak tua dengan senyum ramahnya menyambut kehadiran kami.

sungai di probolinggo memiliki 2 mata air
sungai di probolinggo memiliki 2 mata air
sungai di probolinggo memiliki 2 mata air
sungai di probolinggo memiliki 2 mata air
Sejurus kemudian, Yen melepaskan pakaiannya lalu berjalan masuk ke dalam kolam air panas dan berendam di dalamnya. Setelah itu, aku menyusul lalu duduk berendam di sampingnya. Kemudian kusapa kedua pria paruh baya tersebut yang langsung disambut dengan senyum ramah tamahnya sambil menutupi kemaluan dengan kedua tangannya.

Sementara itu, kami tidak menghiraukan dengan keadaan yang seperti itu. Kami hanya berendam menikmati sensasi air panas di dalam kolam yang berada di tepi sungai dengan kedalaman air yang hanya setinggi betis orang dewasa dengan suhu air panas yang mencapai 5 derajat. Sementara gelembung-gelembung kecil layaknya minuman bersoda menyembul keluar dari dalam tanah. Dan di sisi kolam di sekat dengan batu-batu kali yang terbungkus kawat.

Hal itu dilakukan oleh warga setempat agar lumpur-lumpur yang berasal dari sungai tidak bercampur ke dalam kolam air panas. Sebenarnya di lokasi sekitar terdapat 6 titik air panas lagi hanya saja tempat-tempat yang lainnya sudah bercampur dengan lumpur yang terhempas oleh aliran air sungai.

Dan menurut kedua pria paruh baya yang berendam tersebut, air panasnya dipercaya sebagai terapi pengobatan seperti gatal-gatal, panu dan penyakit kulit lainnya. Sementara di sekeliling air panas ditumbuhi rimbunnya pepohonan yang sangat asri. Cukup lama kami berendam di kolam air panas dengan aroma belerang yang tidak terlalu kuat.

Saat aku sedang bercengkarama dengan kedua pria paruh baya itu, Yen beranjak dari dalam kolam dan berpindah ke sungai dengan aliran airnya yang sangat dingin dengan kedalaman sebetis orang dewasa. Lalu Yen memanggilku untuk merasakan sensasi dingin air sungai tersebut. Aku pun tergoda dan beranjak dari kolam air panas berpindah ke sungai berendam bersamanya.

Berhubung waktu sudah semakin sore, sekitar pukul 16.30 WIB, aku mengajak Yen untuk menyudahi aktifitas berendam. Setelah itu, kami berjalan menuju kamar mandi umum untuk mengganti pakaian dan kemudian berjalan menuju parkiran sepeda motor, lalu membayar parkiran kepada bapak tua yang menjaga sepeda motor. Setelah itu, kulajukan sepeda motor untuk kembali ke homestay dengan menggunakan Google Map sebagai petunjuk jalan.

How To Get There ??. Jika kamu sudah berada di Kota Probolinggo, gunakan Google Map dengan titik kordinat di Danau ranu Segaran, karena lokasinya yang masih satu area dengan danau tersebut lalu arahkan kendaraan dengan mengikuti rute yang tertera pada Google Map. Untuk parkiran mobil dan sepeda motor sangat berbeda, jadi saran aja untuk kesini menggunakan sepeda motor, karena dari lokasi parkir sepeda motor sudah tidak begitu jauh lagi yang dilanjutkan dengan jalan kaki.
 
Support : Backpankers
Copyright © 2014. Backpankers - All Rights Reserved
Template Created by Backpankers Published by Backpankers